Tuesday, October 13, 2015

Interview with Tsugaeda



Ok, ini wawancara saya (Ftroh) dengan penulis Crime Thriller muda Indonesia, yang belakangan ini sedang bersinar yaitu Ade, atau yang lebih kita kenal dengan nama Tsugaeda.

Beberapa waktu yang dia menerbitkan novel terbarunya Sudut Mati, sebuah novel bertema kejahatan korporasi. Saya penasaran dengan ide-ide darimana dia bisa membuat novel yang cukup greget ini.


1. Langsung saja, meski saya sudah membaca cepat novel baru anda. Tapi, saya masih belum mengerti kenapa novel ini disebut Sudut Mati? Apa arti dan maknanya?



Sudut Mati itu maknanya ada dua:

a) Terpojok, nggak ada jalan buat lari lagi. Nggak bisa ngeles. Nggak bisa ditunda. Ancaman nyata udah di depan. Kalau kau ada di sudut mati, kau tak bisa kemana-mana. Semua harus diberesin, right here, right now.

b) Bisa juga bermakna blind spot. Sesuatu yang nggak disangka datang dari sana, nggak diantisipasi. Tiba-tiba aja muncul. Kalo nyetir mobil kan ada istilah blind spot di spion. Spion mobil itu ada sudut matinya. Di mana di situ tiba-tiba aja ada motor nyelonong entah dari mana, gak keliatan sama kita. Sesuatu yang sangat nggak diprediksi datang.

Dua hal itu ada di novelnya.

2. Seperti yang ditulis disampulnya novel ini mengambil tema Corporate Thriller? Apa alasannya dan kenapa Corporate Thriller?

Sejujurnya, thriller korporasi itu istilah kita-kita (saya dan editor) aja sih, hahaha. Masalahnya mau bilang karanganku itu genre-nya apa susah juga. Oke, ini jelas thriller. Tapi jelas beda pula dengan sebangsa  tulisannya Dan Brown atau John Grisham. Nah karena naskah ini settingnya bisnis/korporasi, maka kita sebut aja thriller korporasi.

Tapi memang istilah corporate thriller juga dipakai di luar negeri sana (Amerika). Belum populer, sih. Kalau mau tahu karya yang murni corporate thriller, coba tonton film "The Insider". Itu pure corporate thriller, dan keren!

Alasan kenapa saya pilih genre ini. Alasan utamanya pragmatis aja: gampang cari data. Kebetulan kerjaan saya ketika siang hari dan melepas jubah penulis (kayak Batman yak) memang berhubungan dengan dunia bisnis/korporasi gitu. Jadi untuk data-data bisa dibilang nggak usah nyari lagi. Riset bisa cepet.

3. Dari apa yang saya baca, novel ini seolah lebih kearah mafia daripada cerita tentang perusahaan Investasi. Iya, cerita dua keluarga besar yang saling berseteru, bersaing dalam dunia bisnis yang abu-abu antara legal dan ilegal? Benar-benar seperti mafia?

Apa sekelam itu dunia korporasi dan investasi di Jakarta dan apakah novel ini adalah kritik akan hal itu?

Iya, jatuhnya memang ke cerita gangster. Kalau mau diurut inspirasinya bisa panjang: film-filmnya Martin Scorsese (The Departed, Goodfellas), novelnya Mario Puzo (The Godfather), serial TV The Sopranos, Boardwalk Empire. Memang pengen bikin cerita yang tone-nya (nuansanya) kayak gitu.

Tapi ceritanya juga harus masuk ke konteks Indonesia. Makanya saya adaptasikan ke masalah-masalah korporasi di Indonesia, berikut karakter-karakter mafia di sini. Kan nggak sama yah gangster Italian-American sama geng-geng di Jakarta.

Sisi gelap korporasi di Jakarta ya jelas ada. Dan di novel Sudut Mati juga yang diangkat baru sebagian aja. Kritik? Yes.

4. Bicara tentang karakter, saya suka dengan karakter Kath, mengingatkan saya dengan beberapa karakter yang saya buat juga cewek cantik, tangguh, dan punya rahasia yang berbahaya. Ngomong-ngomong apa yang menginspirasi anda menulis karakter Kath?

Semua karakter saya persiapkan dengan baik. Masing-masing perannya udah dirancang dari awal. Kath memang unik, soalnya dia outsider. Saya suka bikin peran cewek yang jadi subyek, bukan cuma obyek. Dia aktif, bukan reaktif.

Dan di cerita thriller, karakter cewek itu enak banget dijadikan game changer. Karena..yah..pada dasarnya cewek memang tak bisa diprediksi dan sukar dimengerti, hehehe. Di novel Rencana Besar saya melakukannya dengan Amanda, dan di Sudut Mati ini dengan Kath.

5. Berbeda dengan novel sebelumnya Rencana Besar, dimana anda memiliki Makarim Ghanim sebagai karakter jagoan. Di novel Sudut Mati, saya nggak bisa melihat siapa tokoh jagoannya, semua begitu abu-abu, siapa penjahat -siapa jagoan? Sempat saya berpikir semua karakter utama di sini adalah penjahat kecuali dua orang polisi yang menyelidiki Teno itu.

Apa yang memotivasi anda membuat karakter seperti Titan, Titok, dan Teno yang anti-hero ini? Dan apakah tidak cukup riskan (untuk para pembaca) ketika karakter utamanya adalah penjahat juga?

Emang Titan jahat ya? Hahaha
Saya bosan ama orang baik.
Eh, nggak, deng. Gini, lho. Kadang-kadang untuk membuat sebuah cerita itu dinamis, terutama di thriller, kita nggak bisa pakai tokoh yang 100% baik. Misalnya di Sudut Mati, kalau jagoannya anak baik sempurna, penyabar, saleh. Apa yang akan dia lakukan? Tabah dan berdoa lalu menasihati ke jalan yang benar? Kelar dong ceritanya beberapa halaman doang.

Nggak lah kalau riskan. Saya nggak nganggep Titan jahat. Nah di situ ada relativitas antara baik dan jahat. Baik atau jahat dibandingkan apa/siapa dulu? Dalam kondisi seperti di cerita Sudut Mati, jagoannya itu nggak berhadapan dengan pilihan gampang Benar atau Salah. Dalam kehidupan nyata yang kejam, protagonisnya harus milih di antara pilihan-pilihan yang buruk semua.

6. Bicara tentang Titok dan Teno, bau-baunya saya mencium Naoki Urasawa? Apa dia sangat menginspirasi anda dalam novel ini?

Titok dan Teno nggak sih ya. Nggak tahu juga.
Tapi memang Naoki Urasawa ngasih banyak influence ke cara saya bercerita. Khususnya ke cara memotong adegan, dan gimana memanfaatkan flashback.

7. Kemudian tentang dokter, tentu saja dia karakter yang paling menarik yang anda tulis dalam novel ini. Iya meski ada beberapa kelemahan tapi dia tetap yang terbaik, apa yang menginspirasi anda menciptakan Si Dokter ini? Apa jangan-jangan dari Ide "The Doctor" -nya Valetino Rossi!? Hahaha...

Ini inspirasi dari cerita-cerita Amerika sih. Kan suka ada tuh pembunuh dinamain dengan istilah profesi: The Butcher, The Mechanic. Itu jadi menginspirasi buat bikin juga Si Dokter. Kebetulan juga waktu itu abis baca biografi dokter pembunuh dari Amerika Serikat, namanya Michael Swango.

8. Banyak penulis senior yang bilang, untuk mendalami karakter sebaiknya menggunakan PoV 1 tapi di sini di kedua novel anda, anda menggunakan PoV 3, apa alasannya? Dan bagaimana bisa anda membuat karakter yang begitu dalam hanya dengan PoV 3?

PoV 1 dan PoV 3 itu sesuai kebutuhan aja. Nggak ada yang lebih baik atau lebih buruk. Saya pakai PoV 3 karena itu lebih sesuai untuk cerita semacam ini. Pindah-pindah adegannya itu gampang dan cepat.

Membuat karakter yang dalam itu sama aja prinsipnya baik PoV 1 dan PoV 3. Emang kudu dirancang dari awal. Bab bikin karakter yang baik itu panjang deh (bisa satu buku sendiri lho). Mungkin coba googling dulu aja, ada banyak tips-nya di internet. Tapi intinya memang harus disiapkan dari awal.


9. Ok, ini diluar novel Sudut Mati, apa pendapat anda tentang perkembangan fiksi Crime Thriller di Indonesia?

Belum terlalu berkembang. Tapi gelagatnya akhir-akhir ini mulai menggeliat. Sebenarnya potensinya besar. Lihat aja novel terjemahan tentang thriller kriminal itu nggak pernah absen di toko buku (James Patterson misalnya)

10. Terakhir, apa tips anda untuk teman-teman muda yang ingin terjun ke dunia fiksi Crime Thriller?

a) banyak baca fiksi, banyak nonton film. Jadilah pembaca/penonton kritis. Artinya kalau baca atau nonton, coba dikritisi juga. Ini aku suka kenapa ya? Atau kok ini jelek kenapa ya?

b) banyak referensi fakta juga. Jadi harus perbanyak ilmu pengetahuan betulannya. Intinya sih kembali ke banyak baca tadi.

c) latihan menulis. Karena nulis itu emang perlu latihan. Nggak ada yang langsung bisa dan bagus.

d) Jangan lupain untuk hidup normal! Hahaha. Oke, kau penulis, tapi lebih penting dari itu, kau itu manusia. Butuh bersosialisasi, bergaul, to keep your level of sanity.

d) Sabar. Nggak ada yang instan.
.  .  .


Ok, terima kasih banyak atas wawancara-nya, di sini Ftroh sign out ! Hihihi...

ftrohx

twitter saya ; @ftrahx

No comments:

Post a Comment